Home > Uncategorized > Pandangan Islam tentang Kenaikan Harga BBM

Pandangan Islam tentang Kenaikan Harga BBM

Image

Materi Khutbah saya hari ini, jumat 3 Mei 2013 : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberi sinyal pemerintah akan menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Paling cepat, bandrol baru untuk premium dan solar subsidi berlaku pada Juni 2013.  Tapi ada juga prediksi paling pesimistis, rencana kenaikan harga bensin ini sekadar ‘pepesan kosong’ dan bakal mental lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Menurut hitungan kasar, pengajuan APBN-P tampaknya baru akan dilakukan pada minggu ke-2 Mei, dan pembahasan diperkirakan memakan waktu 1 bulan. Sehingga diperkirakan kenaikan harga BBM akan dilakukan paling cepat bulan Juni.

Dari sisi rakyat, bila bulan itu dipilih akan menjadi waktu yang rawan bagi ‘kantong’ karena menjelang momen Ramadan. Diperkirakan, sekitar 5 juta rakyat miskin baru pun tercipta. Sementara, pemerintah juga akan berpikir ulang karena ancaman inflasi tinggi, padahal saat ini merupakan tahun politik(http://www.surabayapost.co.id, 2 Mei 2013)

Bahwa kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dipastikan akan menambah beban hidup rakyat. Padahal sudah diketahui, bahwa tanpa kebijakan tersebut, hari ini rakyat pun sudah hidup menderita. “Kenaikan harga BBM, pasti akan diikuti juga dengan kenaikan harga kebutuhan kebutuhan lainnya. Walhasil, rakyat pasti akan menanggung beban paling besar atas kebijakan ini”

Ia pun mempertanyakan alasan pemerintah yang menganggap bahwa Subsidi BBM merupakan beban bagi APBN yang bila tak segera dikurangi jumlahnya akan membuat APBN menjadi tidak sehat.” Jika Subsidi BBM dianggap membebani APBN, mengapa anggaran untuk bayar bunga dan cicilan pokok utang yang totalnya sebesar 171.7 Triliun tak pernah dipersoalkan?

Padahal Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menjelaskan, asumsi subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam RAPBN 2013 disepakati sebesar Rp 193,8 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari subsidi berjalan sebesar Rp 190,3 triliun, dan pengurangan subsidi tahun 2011 sebesar Rp 3,5 triliun. (Kompas.com Jumat, 28 September 2012)

Bahkan menurut Arim Nasim peneliti perminyakan, tanpa pengurangan subsidi BBM pun APBN Indonesia sebenarnya sudah tidak sehat. Adapun yang menjadi sebab tidak sehatnya adalah Logika Kapitalistik yang digunakan Pemerintah dalam mengelola APBN. ”Dalam logika Kapitalistik, pendapatan Negara akan dipusatkan pada penerimaan pajak yang bersumber dari rakyat. Sementara Sumber Daya Alam yang memiliki potensi besar untuk dijadikan pemasukan Negara justru dijual pada pihak Kapitalis atau Swasta, baik lokal maupun asing”

Logika tersebut menurutnya akan terus membuat posisi rakyat menderita.  “Hari ini, hampir 84% Sumber daya Migas Indonesia dimiliki para Kapitalis. Para Kapitalis yang mayoritasnya Asing dapat menikmatinya dengan mudah. Sementara rakyat justru terus dipaksa membayar mahal untuk membelinya”

John Perkins dalam bukunya “Confession of an Economic Hitman” (2004) mengaku bahwa selama 30 tahun ia menjadi “ekonom pembunuh bayaran” di NSA (National Security Agency), AS. Tugas Perkins adalah menganalisis bagaimana caranya menghancurkan ekonomi negara-negara berkembang dan miskin. Salah satu caranya, meminjamkan uang miliaran dolar kepada negara-negara tertentu sehingga mereka tak mampu membayarnya. Jika sudah terjepit, baru kemudian negara-negara tersebut diperas ekonominya

Ketika masyarakat di negeri ini euforia dengan reformasi, berbagai UU energi primer telah diubah oleh asing. UU No. 22/2001 tentang minyak dan gas bumi, pembuatannya dibiayai oleh USAID dan Bank Dunia sebesar 40 juta dolar AS. UU No. 20/2002 tentang kelistrikan dibiayai oleh Bank Dunia dan ADB sebesar 450 juta dolar AS. UU No. 7/2004 tentang sumber daya air pembuatannya dibiayai oleh Bank Dunia sebesar 350 juta dolar AS.

Intervensi asing rupanta tidak hanya terjadi pada UU Migas, namun juga pada UU lainnya seperti UU Bank Indonesia, UU Mineral dan Batubara (Minerba), UU Perkebunan, UU Penanaman Modal, sampai UU Penyiaran, sehingga rakyat makin terjajah dan miskin. Liberalisasi sektor energi itu dimulai ketika Soeharto menyerahkan kedaulatan ekonomi Indonesia kepada IMF dan mulai terlihat di masa pemerintahan Megawati dan SBY. UU Migas misalnya, sengaja dibuat untuk menguasai sektor energi Indonesia mulai dari hulu (penetapan harga minyak) hingga ke hilir (pembuatan tabung gas saat konversi dari minyak tanah ke gas).

Di sektor migas misalnya, 84% produksi (329 blok) yang dimiliki Indonesia kian tergadaikan bila melihat luas lahan konsesi yang dikuasai asing untuk migas mencapai 95,45 juta hektar. Luas daratan seluruh Indonesia sendiri mencapai 192.257.000 hektar, sedangkan luas hutan Indonesia seluas 101.843.486 hektar. (Sumber: Adhes Satria, “Cengkeraman Asing di Negeri Sendiri”, Sabili No. 18 TH.. XVI 26 Maret 2009 / 29 Rabiul Awal 1430 H, hal. 38-43)

Oleh karena itu, Arim yang juga merupakan Pengamat Ekonomi UPI ini menyatakan, bahwa satu satunya cara untuk menyelesaikan kemelut BBM ini adalah dengan mengusir para Kapitalis dan Ideologi yang dibawanya.”Kita harus mengusir dan mengganti Sistem Kapitalis”

Sebagai gantinya, Beliau menambahkan, Negara wajib menegakkan Sistem Islam. Karena menurutnya, Islam punya mekanisme yang tepat dalam hal pengelolaan Migas, termasuk di dalamnya pengelolaan BBM. “Dalam Islam, Sumber Daya Alam seperti Migas adalah milik umum. Pengelolaannya tidak bisa diberikan pada individu atau swasta, tapi harus dikelola Negara. Dan dalam hal ini Negara bertugas melayani rakyat bisa menikmatinya dengan mudah”

Kelola Sesuai Syariah Sejahterakan Rakyat

Migas dan SDA yang melimpah lainnya dalam pandangan Islam merupakan milik umum. Pengelolaannya harus diserahkan kepada negara untuk kesejahteraan rakyat. Tambang migas itu tidak boleh dikuasai swasta apalagi asing. Abyadh bin Hammal menceritakan bahwa ia pernah menghadap kepada Nabi saw dan minta diberi tambang garam yang menurut Ibnu Mutawakkil, berada di daerah Ma’rib lalu beliau memberikannya. Namun saat ia akan pergi, ada seseorang yang berada di majelis berkata kepada Rasul : “Tahukah Anda apa yang Anda berikan padanya, sungguh Anda memberinya sesuatu laksana air yang terus mengalir.” Maka beliau pun menariknya kembali darinya (HR. Baihaqy dan Tirmidzy). (www.hizbut-tahrir.or.id)

Rasul saw juga bersabda:

Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad)

 Karena itu, kebijakan kapitalistik, yakni liberalisasi migas baik di sektor hilir termasuk kebijakan harganya, maupun di sektor hulu yang sangat menentukan jumlah produksi migas, dan kebijakan zalim dan khianat serupa harus segera dihentikan. Sebagai gantinya, migas dan SDA lainnya harus dikelola sesuai dengan syariah. Jalannya hanya satu, melalui penerapan syariah Islam secara kaffah. Saat itulah SDA dan migas akan menjadi berkah yang menyejahterakan seluruh rakyat. Wallâh a’lam bi ash-shawâb

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: