MOTIVASI ISLAM

KESALAHAN ITU MEMBAWA DAMPAK DALAM HIDUPKU

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Ada satu kisah nyata yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer Kubik Leadership yang
bernama Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe A Bekasisekitar akhir tahun 2005. Dalam berceramah agama, beliau
menceritakan satu kisah dengan sangat APIK dan membuat air mata pendengar berurai. Berikut ini adalah kisahnya:
Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak bisa tidur. Saya sudah berusaha membantu agar istri saya bisa tidur,
dengan membelai, diusap-usap, masih susah tidur juga. Sungguh cobaan yang sangat berat. Akhirnya saya membawa istri saya ke
RS Citra Insani yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Sudah 3 hari diperiksa tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya.
Kemudian saya pindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor. Selama berada di RS Azra, istri saya badannya panas dan selalu
kehausan. Setelah dirawat 3 bulan di RS Azra, penyakit istri saya belum juga diketahui penyakitnya.

Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Mereka di Jakarta dan langsung di rawat di ruang ICU. Satu malam berada di
ruang ICU pada waktu itu senilai Rp 2,5 juta. Badan istri saya – maaf- tidak memakai sehelai pakaian pun. Dengan ditutupi kain,
badan istri saya penuh dengan kabel yang disambungkan ke monitor untuk mengetahui keadaan istri saya. Selama 3 minggu
penyakit istri saya belum bisa teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang menangani istri saya menemui saya dan bertanya, “Pak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk mengganti
obat istri bapak.” “Dok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya, padahal setiap hari saya memang gonta-ganti mencari obat untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter minta izin ?” “Ini beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini nantinya
disuntikkan ke istri bapak.” “Berapa harganya dok?” “Obat untuk satu kali suntik 12 juta pak.” “Satu hari berapa kali suntik dok?”
“Sehari 3 kali suntik.” “Berarti sehari 36 juta dok?” “Iya pak Jamil.” “Dok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan saya
sekarang hampir habis untuk menyembuhkan istri saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi. Tolong temukan penyakit istri
saya dok.” “Pak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum menemukan penyakit istri bapak. Kami sudah mendatangkan
perlengkapan dari RS Cipto dan banyak laboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan.”
“Tolong dok…., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter yang memeriksa dan saya akan berdoa kepada Rabb saya. Tolong dok
dicari” “Pak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami tidak juga menemukan penyakit istri bapak, maka dengan terpaksa kami
akan mengganti obatnya.” Kemudian dokter memeriksa lagi. “Iya dok.”

Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua raka’at.
Selesai shalat dhuha, saya berdoa dengan menengadahkan tangan
memohon kepada Allah, -setelah memuji Allah dan bershalawat
kepada Rasululloh,
“Ya Allah, ya Tuhanku….., gerangan maksiat apa yang aku
lakukan. Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga
engkau menguji aku dengan penyakit istriku yang tak kunjung
sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah. Tunjukkanlah kepadaku ya
Allah, gerangan energi negatif apakah yang aku lakukan sehingga
istriku sakit tak kunjung sembuh ? sembuhkanlah istriku ya Allah.
Bagimu amat mudah menyembuhkan penyakit istriku semudah
Engkau mengatur Milyaran planet di muka bumi ini ya Allah.”
Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, “Ya Allah,
gerangan maksiat apa yang pernah aku lakukan? Gerangan energi
negatif apa yang aku lakukan sehingga aku diuji dengan penyakit
istriku tak kunjung sembuh?” saya teringat kejadian berpuluh-
puluh tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengambil uang ibu
sebanyak Rp150,-.
Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan. Pada waktu
itu SPP bulanannya adalah Rp 25,. Setiap pagi wali kelas
memanggil dan menanyakan saya, “JaMil, kapan membayar SPP ?
JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ?” Malu
saya.

»Lanjutan cerita1
Dan ketika waktu istrirahat saya pulang dari sekolah, saya
menemukan ada uang Rp150, di bawah bantal ibu saya. Saya
mengambilnya. Rp75,- untuk membayar SPP dan Rp75,- saya
gunakan untuk jajan.
Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, “Ya Allah,
gerangan maksiat apa? Gerangan energi negatif apa yang aku
lakukan sehingga penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya
diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD dulu ketika saya
mengambil uang ibu. Padahal saya hampir tidak lagi
mengingatnya ??. Maka saya berkesimpulan mungkin ini petunjuk
dari Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan istri saya sakit tak
kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. Setelah itu
saya menelpon ibu saya,
“Assalamu’alaikum Ma…”
“Wa’alaikumus salam Mil….” Jawab ibu saya.
“Bagaimana kabarnya Ma ?”
“Ibu baik-baik saja Mil.”
“Trus, bagaimana kabarnya anak-anak Ma ?”
“Mil, mama jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga
anak-anakmu. Sudah kamu tidak usah memikirkan anak-anakmu,
kamu cukup memikirkan istrimu saja. Bagaimana kabar istrimu
Mil, bagaimana kabar Ria nak ?” –dengan suara terbata-bata dan
menahan sesenggukan isak tangisnya-.
“Belum sembuh Ma.”
“Yang sabar ya Mil.”
Setelah lama berbincang sana-sini –dengan menyeka butiran air
mata yang keluar-, saya bertanya, “Ma…, Mama masih ingat
kejadian beberapa tahun yang lalu ?”
“Yang mana Mil ?”
“Kejadian ketika Mama kehilangan uang Rp150,- yang tersimpan
di bawah bantal ?”
Kemudian di balik ujung telephon yang nun jauh di sana, Mama
berteriak, (ini yang membuat bulu roma saya merinding setiap
kali mengingatnya)
“Mil, sampai Mama meninggal, Mama tidak akan
melupakannya.” (suara mama semakin pilu dan menyayat hati),
“Gara-gara uang itu hilang, mama dicaci-maki di depan banyak
orang. Gara-gara uang itu hilang mama dihina dan direndahkan di
depan banyak orang. Pada waktu itu mama punya hutang sama
orang kaya di kampung kita Mil. Uang itu sudah siap dan mama
simpan di bawah bantal namun ketika mama pulang, uang itu
sudah tidak ada. Mama memberanikan diri mendatangi orang
kaya itu, dan memohon maaf karena uang yang sudah mama
siapkan hilang.
Mendengar alasan mama, orang itu merendahkan mama Mil.
Orang itu mencaci-maki mama Mil. Orang itu menghina mama
Mil, padahal di situ banyak orang. …rasanya Mil. Mamamu
direndahkan di depan banyak orang padahal bapakmu pada waktu
itu guru ngaji di kampung kita Mil tetapi mama dihinakan di
depan banyak orang. SAKIT…. SAKIT… SAKIT rasanya.”
Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan mendengar
penderitaan dan sakit hati yang dialami mama pada waktu itu,
saya bertanya, “Mama tahu siapa yang mengambil uang itu ?”
“Tidak tahu Mil…Mama tidak tahu.”
Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab dengan
suara serak,
“Ma, yang mengambil uang itu saya Ma….., maka melalui telphon
ini saya memohon keikhlasan Mama. Ma, tolong maafkan Jamil
Ma…., Jamil berjanji nanti kalau bertemu sama Mama, Jamil akan
sungkem sama mama. Maafkan saya Ma, maafkan saya….”
Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana,
“Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim…..
Astaghfirullahal ‘Azhim…..Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan
orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku.
Maafkanlah dia ya Allah, ridhailah dia ya Rahman, ampunilah dia
ya Allah.”
“Ma, benar mama sudah memaafkan saya ?”
“Mil, bukan kamu yang harus meminta maaf. Mama yang
seharusnya minta maaf sama kamu Mil karena terlalu lama mama
memendam dendam ini. Mama tidak tahu kalau yang mengambil
uang itu adalah kamu Mil.”
“Ma, tolong maafkan saya Ma. Maafkan saya Ma?”
“Mil, sudah lupakan semuanya. Semua kesalahanmu telah saya
maafkan, termasuk mengambil uang itu.”
“Ma, tolong iringi dengan doa untuk istri saya Ma agar cepat
sembuh.”
“Ya Allah, ya Tuhanku….pada hari ini aku telah memaafkan
kesalahan orang yang mengambil uangku karena ia adalah
putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahannya yang lain. Ya
Allah, sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku ya
Allah.”
Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan terima
kasih kepada mama.

»Lanjutan cerita2
Dan itu selesai pada pukul 10.00 wib, dan
pada pukul 11.45 wib seorang dokter mendatangi saya sembari
berkata,
“Selamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah ketahuan.”
“Apa dok?”
“Infeksi prankreas.”
Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air mata
kebahagiaan, “Terima kasih dokter, terima kasih dokter. Terima
kasih, terima kasih dok.”
Selesai memeluk, dokter itu berkata, “Pak Jamil, kalau boleh jujur,
sebenarnya pemeriksaan yang kami lakukan sama dengan
sebelumnya. Namun pada hari ini terjadi keajaiban, istri bapak
terkena infeksi prankreas. Dan kami meminta izin kepada pak
Jamil untuk mengoperasi cesar istri bapak terlebih dahulu
mengeluarkan janin yang sudah berusia 8 bulan. Setelah itu baru
kita operasi agar lebih mudah.”
Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya selamat,
saya kembali ke Bogor untuk sungkem kepada mama bersimpuh
meminta maaf kepadanya, “Terima kasih Ma…., terima kasih Ma.”
Namun…., itulah hebatnya seorang ibu. Saya yang bersalah
namun justru mama yang meminta maaf. “Bukan kamu yang
harus meminta maaf Mil, Mama yang seharusnya minta maaf.”
Sahabat … Sungguh benar sabda Rasulullaah shalallaahu ’alaihi
wa sallam :
“Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka
Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu
Hibban, Tirmidzi, Hakim)
“Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: orang yang
berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan
doa orang yang teraniaya. Doa mereka diangkat Allah ke atas
awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah,
‘Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu)
meskipun tidak segera.” (HR. Attirmidzi)
Kita dapat mengambil HIKMAH bahwa:
Bila kita seorang anak …
Janganlah sekali-kali membuat marah orang tua, karena murka
mereka akan membuat murka Allah subhanahu wa ta’ala. Dan bila
kita ingin selalu diridloi-Nya maka buatlah selalu orang tua kita
ridlo kepada kita.
Jangan sampai kita berbuat zholim atau aniaya kepada orang lain,
apalagi kepada kedua orang tua, karena doa orang teraniaya itu
terkabul.
Bila kita sebagai orang tua …
Berhati-hatilah pada waktu marah kepada anak, karena
kemarahan kita dan ucapan kita akan dikabulkan oleh Allah
subhanahu wa ta’ala, dan kadang penyesalan adalah ujungnya.
Doa orang tua adalah makbul, bila kita marah kepada Anak,
Berdoalah untuk kebaikan anak-anak kita, maafkanlah mereka.
Semoga kita di karuniai anak keturunan yang shaleh dan
shalehah, yang pintar dan kreatif dan menjadi kebanggaan kita
dalam kebaikan. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin


VAKSIN, TERNYATA MEMBAHAYAKAN KESEHATAN

Tujuan Imunisasi Bukanlah Membentuk Sistem Imun Pada Manusia

Ternyata Tujuan Imunisasi Bukanlah Membentuk Sistem Imun Pada Manusia. Lhoh kok? Pernah menyimak video bertitel Vaccination The Hidden Truth yang menjelaskan bahaya vaksinasi bagi ummat manusia. Video tersebut melibatkan para dokter medis, peneliti dan pengalaman beberapa orang tua dalam hal vaksinasi. Video tersebut bernama Vaccination:the Hidden Truth ( Vaksinasi: Kebenaran yang Disembunyikan ). Sudah banyak orang menjadi sadar untuk meninggalkan budaya vaksinasi sesudah menonton video ini.  Bagaimana dengan kita? Mau tetap vaksinasi atau,……?
Seorang penulis muslim berkebangsaan Inggris bernama Ahmad Thomson menulis sebuah buku berjudul ”Dajjal:The Anti-Christ.” Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ”Sistem Dajjal.” Dalam bukunya ia menjelaskan bahwa sejak hampir satu abad yang lalu dunia makin hari makin membentuk dirinya menjadi sebuah Sistem Kafir yang lebih cocok disebut sebagai Sistem Dajjal. Ia berpandangan bahwa Dajjal memiliki tiga sisi tampilan. Pertama, sisi sebagai gejala sosial budaya global. Kedua, Dajjal sebagai kekuatan gaib yang tidak tampak kasat mata. Dan ketiga, Dajjal sebagai individu atau oknum. Keberadaan sistem dan para pengurusnya itu, merupakan bukti dari Dajjal sebagai gejala sosial budaya global dan Dajjal sebagai kekuatan gaib. Dilihat dari semua pertanda yang nampak dewasa ini, kedua sisi Dajjal tersebut – yang akan dijelmakan oleh si Dajjal sendiri – sudah sangat kentara, ini berarti kemunculan Dajjal sudah sangat dekat.
Jadi berdasarkan tulisan Ahmad Thomson dewasa ini Dajjal sebagai gejala sosial budaya global dan kekuatan gaib yang tidak tampak kasat mata sudah mewujud. Tinggal Dajjal sang individu atau oknum yang belum muncul. Seluruh nilai-nilai yang berlaku dalam sistem Dajjal secara diameteral bertentangan dengan nilai-nilai Sistem Kenabian. Sebab sistem Dajjal berisi nilai-nilai kekafiran sedangkan sistem Kenabian mengandung nilai-nilai keimanan. Baik itu dalam bidang ideologi, sosial, politik, seni-budaya, ekonomi, pendidikan, hukum, militer dan pertahanan keamanan. Tentu tidak ketinggalan ia juga mencakup aspek kehidupan yang disebut dengan dunia medis. Coba perhatikan kutipan tulisan Ahmad Thomson di bawah ini:

Sebagaimana sistem pabrik dan sistem pendidikan kafir, sistem medis kafir dijalankan bak sebuah bisnis. Sistem medis kafir tak begitu peduli pada penyembuhan dan apa yang bermanfaat atau tidak. Bahkan merupakan sebuah bisnis besar bagi perusahaan-perusahaan farmasi yang memasok obat-obatan dan peralatannya, seraya memelihara beribu-ribu pekerja yang dikaryakan untuk menambal para pasien, agar mereka pun bisa dikaryakan. Kini, kita lebih sering mendengar mahasiswa kedokteran berbicara mengenai gaji-gaji besar yang mereka cita-citakan – apabila telah lulus ujian dan mendapat secarik kertas – dibanding dengan berbicara mengenai cita-cita mereka untuk menyembuhkan banyak manusia, atau berbicara mengenai bagaimana cara mencapai penyembuhan tersebut.
Ahmad Thomson menggambarkan sistem medis kafir sebagai sebuah bisnis besar yang berkembang guna melestarikan proses produsen-konsumen. Sistem medis dalam sistem Dajjal tidak pernah dimaksudkan untuk benar-benar menghapus penyakit dan menimbulkan kesehatan. Ia malah melestarikan penyakit dengan mencekoki masyarakat obat-obatan kimiawi yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Itulah sebabnya industri farmasi menjadi industri yang sangat profitable (menguntungkan secara bisnis). Tak kecuali fenomena yang disebut dengan vaksinasi. Vaksinasi merupakan salah satu cara massif untuk menimbulkan ketergantungan masyarakat kepada sistem medis dan sistem farmasi kafir.
Dalam sebuah situs bernama informationliberation:The news you’re not suppose to knowterdapat sebuah video yang menjelaskan bahaya vaksinasi bagi ummat manusia. Video tersebut melibatkan para dokter medis, peneliti dan pengalaman beberapa orang tua dalam hal vaksinasi. Video tersebut bernama Vaccination:the Hidden Truth (Vaksinasi: Kebenaran yang Disembunyikan). Sudah banyak orang menjadi sadar untuk meninggalkan budaya vaksinasi sesudah menonton video ini. Bagi yang berminat silahkan klik http://www.informationliberation.com/?id=13924.

Di dalam situs itu ditulis:
“Find out how vaccines are proven to be both useless and have harmful effects to your health and how it is often erroneously believed to be compulsory.” (Temukan bagaimana vaksin terbukti sia-sia belaka dan malah mengandung efek berbahaya untuk kesehatan Anda dan bagaimana ia sering keliru diyakini sebagai wajib)

Imunisasi dan Konspirasi di dalamnya.
Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme Internasional.
Kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya :
The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 – the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS).
~ Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda”
Wah hebat sekali ya penguasaan mereka pada lembaga-lembaga strategis.
Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (Baca : konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.
Sumber :http://kiatsehat2010.blogspot.com/2010/09/imunisasi-tak-pernah-bermaksud.html

ISI VAKSIN : darah kuda dan babi, nanah dari cacar sapi, jaringan ginjal anjing, sel ginjal kera, dll

Imunisasi merupakan cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit. Anda mendengar hal ini dari dokter, media massa, brosur di klinik, atau teman-teman Anda. Tetapi, apakah Anda pernah berpikir ulang tentang tujuan imunisasi? Pernahkah anda meniliti lebih lanjut terhadap isu-isu dan cerita mengenai sisi lain imunisasi (yang tidak pernah diinformasikan oleh dokter)?
Serangkaian imunisasi yang terus digiatkan hingga saat ini oleh pihak-pihak terkait yang katanya demi menjaga kesehatan anak, patut dikritisi lagi baik dari segi kesehatan maupun syariat. Teori pemberian vaksin yang menyatakan bahwa “memasukkan bibit penyakit yang telah dilemahkan kepada manusia akan menghasilkan pelindung berupa anti bodi tertentu untuk menahan serangan penyakit yang lebih besar”. Benarkah?
Tiga Mitos Menyesatkan:
Vaksin begitu dipercaya sebagai pencegah penyakit. Hal ini tidak terlepas dari adanya 3 mitos yang sengaja disebarkan. Padahal, hal itu berlawanan dengan kenyataan.
1) Mitos: Effektif melindungi manusia dari penyakit.
Kenyataan: Banyak penelitian medis mencatat kegagalan vaksinasi. Campak, gabag, gondong, polio, terjadi juga di pemukiman penduduk yang telah diimunisasi. Sebagai contoh, pada tahun 1989, wabah campak terjadi di sekolah yang punya tingkat vaksinasi lebih besar dari 98%. WHO juga menemukan bahwa seseorang yang telah divaksin campak, punya kemungkinan 15 kali lebih besar untuk terserang penyakit tersebut daripada yang tidak divaksin.
2) Mitos: Imunisasi merupakan sebab utama penurunan jumlah penyakit.
Kebanyakan penurunan penyakit terjadi sebelum dikenalkan imunisasi secara masal. Salah satu buktinya, penyakit-penyakit infeksi yang mematikan di AS dan Inggris mengalami penurunan rata-rata sebesar 80%, itu terjadi sebelum ada vaksinasi. The British Association for the Advancement of Science menemukan bahwa penyakit anak-anak mengalami penurunan sebesar 90% antara 1850 dan 1940, dan hal itu terjadi jauh sebelum program imunisasi diwajibkan.
3) Mitos: Imunisasi benar-benar aman bagi anak-anak
Yang benar, imunisasi lebih besar bahayanya. Salah satu buktinya, pada tahun 1986, kongres AS membentuk The National Childhood Vaccine Injury Act, yang mengakui kenyataan bahwa vaksin dapat menyebabkan luka dan kematian.
Racun dan Najis? Tak Masuk Akal
Apa saja racun yang terkandung dalam vaksin? Beberapa racun dan bahan berbahaya yang biasa digunakan seperti Merkuri, Formaldehid, Aluminium, Fosfat, Sodium, Neomioin, Fenol, Aseton, dan sebagainya. Sedangkan yang dari hewan biasanya darah kuda dan babi, nanah dari cacar sapi, jaringan otak kelinci, jaringan ginjal guk guk, sel ginjal kera, embrio ayam, serum anak sapi, dan sebagainya. Sungguh, terdapat banyak persamaan antara praktik penyihir zaman dulu dengan pengobatan modern. Keduanya menggunakan organ tubuh manusia dan hewan, kotoran dan racun (informasi ini diambil dari British National Anti-Vaccination league)
Dr. William Hay menyatakan, “Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatannya. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” ….. (Immunisation:The Reality behind the Myth)
Makhluk Mulia Vs Hewan
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia merupakan khalifah di bumi, sehingga merupakan ashraful makhluqaat (makhluk termulia). Mengingat keunggulan fisik, kecerdasan, dan jiwa secara hakiki, manusia mengungguli semua ciptaan Allah yang ada. Manusia merupakan makhluk unik yang dilengkapi sistem kekebalan alami yang berpotensi melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya.
Jika manusia menjalani hidupnya sesuai petunjuk syariat yang berupa perintah dan larangan, kesehatannya akan tetap terjaga dari serangan virus, bakteri, dan kuman penyakit lainnya. Sedangkan orang-orang kafir, mengangap adanya kekurangan dalam diri manusia sebagai ciptaan Allah, sehingga berusaha sekuat tenaga memperkuat sistemn pertahanan tubuh melalui imunisasai yang tercampur najis dan penuh dengan bahaya.
Manusia merupakan makhluk yang punya banyak kelebihan. Terdapat perbedaan yang mencolok antara manusia dengan hewan tingkat rendah. Apa yang dapat diterapkan padanya tidak cocok bagi hewan, demikian juga sebaliknya. Namun, orang-orang atheis menyamakan hewan dengan manusia, sebab mereka menganut teori evolusi manusia melalui kera yang sangat “menggelikan”. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa apa yang dimiliki hewan dapat secara aman dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Jadi, sel-sel hewan, virus, bakteri, darah, dan nanah disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Logika Syaitan ini adalah menjijikkan menurut Islam.
Imunisasi digembar-gemborkan sebagai suatu bentuk keajaiban pencegahan penyakit, padahal faktanya cara itu tidak lebih hanya sebagai proyek penghasil uang para dokter dan perusahaan farmasi. Dalam kenyataannya, imunisasi lebih banyak menyebabkan bahaya daripada kesehatan. Bahkan, mengacaukan proses-proses alami yang ada dalam ciptaan-Nya. Nah, dengan paparan singkat ini, orang tua mana yang merasa tidak takut untuk memberikan imunisasi pada anaknya? (dsw)
Sumber: http://www.missionislam.com/conissues

Misi Pengurangan Populasi Dunia dengan Vaksin dan KB

Mari kita simak kata-kata Bill Gates berikut ini :
“First we´ve got population. Now, the world today has 6.8 billion people. That´s headed up to about nine billion. Now, if we do a really great job on new vaccines, health care, reproductive health services, we could lower that by, perhaps, 10 or 15 percent, but there we see an increase of about 1.3.”
Artinya kurang lebih begini :
“Pertama, kita dapatkan populasi. Saat ini dunia kita (bumi) memiliki (populasi) 6,8 milyar manusia. Kemudian (populasi) akan bertambah menjadi sembilan milyar manusia. Sekarang, jika kita bisa benar-benar berhasil untuk (membuat) vaksin-vaksin baru, pelayanan kesehatan, pelayanan KB; kita dapat menurunkannya menjadi, mungkin, 10 atau 15 persen, tapi sekarang kita melihat ada peningkatan 1,3 (persen).”

Buat yang tidak percaya, silahkan lihat videonya :

http://un2kmu.wordpress.com/2010/06/21/bill-gates-dan-misi-pengurangan-populasi -dunia-dengan-vaksin-dan-kb/#more-3086

Apa yang dapat kita tangkap dari ucapan Mr. Gates?

Jadi dia berbicara tentang menurunkan populasi dunia sebanyak 0,9 milyar dengan menggalakkan vaksinasi, pelayanan kesehatan, dan program KB kepada banyak manusia.

Ucapan tersebut dilontarkan Bill Gates saat presentasinya yang berjudul “Innovating to Zero!” pada acara TED2010 di Long Beach, California. Dan banyak pendengarnya yang merasa bingung dengan ucapannya yang satu itu.

Bertanya-tanyakah anda tentang ucapan Bill Gates tersebut?

Ya, tentu saja. Sangat aneh bagi anda mungkin saat Bill Gates berbicara tentang menurunkan populasi dunia dengan cara menggalakkan vaksinasi, pelayanan kesehatan, dan program KB.

Apakah masuk akal bagi anda mengurangi penduduk dunia dengan cara-cara tersebut?

Bagi sebagian dari anda mungkin tidak percaya, tapi kenyataan harus dikabarkan.

Proyek pengurangan penduduk dunia adalah agenda terselubung dari Zionisme Internasional demi mewujudkan cita-cita mereka menguasai dunia dan membentuk “New World Order” atau atau “Tatanan Dunia baru” dibawah penguasaan Zionisme Yahudi Internasional. Salah satu agenda pengurangan penduduk dunia mereka diantaranya adalah Program Codex Alimentarius.

Seperti sudah saya jelaskan pada artikel Bahaya Vaksinasi bahwa mereka menciptakan vaksin untuk membuat tubuh manusia kehilangan sifat imunitas alaminya sejak bayi. Sedangkan pelayanan kesehatan yang dimaksud Mr. Gates adalah penggunaan obat-obatan kimiawi buatan berbahaya dengan dosis yang rendah hingga terakumulasi dan meracuni tubuh manusia. Racun-racun tersebut dapat merusak berbagai organ tubuh kita dan menyebabkan penyakit-penyakit berbahaya yang sukar untuk disembuhkan.

Rata-rata negara tujuan Bill Gates untuk menyebarkan vaksinasi adalah negara-negara berpenduduk mayoritas muslim dan kemudian selanjutnya negara dunia ke-3.

Dr. Kardinal Moechtar pernah berkata pada ayah saya, bahwa seluruh obat-obatan yang diciptakan di dunia medis modern adalah racun yang memiliki efek jangka panjang. Sering sekali kita dengar banyak orang yang mati karena komplikasi penyakit. Tanpa mereka sadari bahwa merekalah yang sebenarnya membuat tubuh mereka sakit dengan obat-obatan tersebut. Obat-obatan kimiawi akan terakumulasi dalam tubuh.

Kemudian apa maksud Mr. Gates tentang menurunkan populasi dunia melalui KB atau Keluarga Berencana? Secara logika bahwa KB akan membatasi seseorang memiliki banyak anak dengan berbagai macam programnya. Selain itu alat-alat KB disinyalir memiliki imbas negatif bagi tubuh pemakainya, yang salah satunya adalah menurunkan tingkat kesuburan. Tapi untuk hal ini saya memerlukan banyak sumber untuk pembuktiannya.

Siapakah 0,9 milyar atau sembilan ratus juta orang yang dimaksud?

Bisa jadi anda salah satunya, atau mungkin juga bayi-bayi anda.

Jika kita pernah mendengar penderita autisme pada anak meningkat 200% semenjak beberapa tahun belakangan ini, maka itu artinya vaksinasi mereka telah sukses.

“Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.”
~ Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional

Selain itu saat ini muncul berbagai penyakit aneh lainnya semenjak anak-anak diberikan vaksinasi, dan salah satu korbannya adalah adik saya sendiri.

Siapa “kita” yang Mr. Gates bicarakan yang bertujuan untuk menurunkan populasi dunia?

Ingin tahukah anda siapa mereka?

Seperti yang sudah saya bilang tadi, mereka adalah kelompok Zionisme Internasional. Mereka adalah musuh setiap bangsa di dunia ini!

~ Tio Alexander

Sumber: un2kmu.wordpress.com/2010/06

Pendapat Para Ahli Tentang Imunisasi?

“Ilmu Medis Menerima Pujian Yang Berlebihan Bagi Sebagian Kemajuan Dalam Bidang Kesehatan. Banyak Orang Percaya Keberhasilan Dalam Menangani Penyakit Menular Pada Abad Terakhir Terjadi Bersamaan Dengan Diciptakannya Imunisasi. Sebenarnya, Kusta, Tifoid, Tetanus, Difteria, Batuk Rejan, Dll Telah Menurun Sebelum Ditemukan Vaksin Untuknya Yaitu Merupakan Hasil Dari Perbaikan Sanitasi Dan Peningkatan Kualitas Makanan Serta Air Minum.”
(Dr. Andrew Weil Dalam Health And Healthy)
Apa Pendapat Para Ilmuwan Dan Para Dokter Mengenai Imunisasi?
Para Dokter dan Ilmuan Membantah Vaksinasi
”Terdapat Banyak Bukti Yang Menunjukan Imunisasi Terhadap Anak Lebih Banyak Merugikan Dari Pada Manfaatnya.” (Dr. J Anthony Morris, Mantan Ketua Pengawas Vaksin)
”Ancaman Terbesar Serangan Penyakit Anak-Anak Datang Dari Usia Pencegahan Yang Tidak Efektif Dan Berbahaya Melalui Imunisasi Besar-Besaran.” (Dr. R. Mendelsohn, Penulis (How To Raise A Healthy Child In Spite Of Your Doctor Dan Profesor Pediatrik).
”Semua Vaksinasi Berfungsi Mengubah Tiga Situasi Darah Kepada Ciri-Ciri Kanker Dan Leukemia. Vaksin DO Dapat Menyebabkan Kanker Dan Leukemia.” (Profesor L.C. Vincent, Penggagas Bioelektronika).
“Data Resmi Menunjukan Vaksinasi Berskala Besar Di AS Gagal Memberikan Kemajuan Yang Signifikan Dalam Pencegahan Penyakit Yang Seharusnya Dapat Ia Lindungi.” (Dr. A. Sabin, Pengembang Vaksin Polio Oral, Dalam Kuliahnya Di Hadapan Dokter-Dokter Italia Di Piacenza, Italia, 7 Desember 1985).
“Selain Telah Nyata Banyak Kasus Kematian Akibat Program Ini, Terdapat Juga Bahaya Jangka Panjang Yang Hampir Mustahil Di Ukur Dengan Pasti.Terdapat Sejumlah Bahaya Dalam Seluruh Prosedur Vaksin Yang Seharusnya Mencegah Penggunaan Yang Terlalu Banyak Atau Tidak Wajar.” (Sir Graham Wilson Dalam The Hazards Of Immunization).
“Dengan Mengesampingkan Fakta Bahwa Vaksin Berpeluang Besar Tercemari Virus Binatang Yang Dapat Menyebabkan Penyakit Serius Pada Masa Depan. Kita Harus Mempertimbangkan Apakah Ada Vaksin Yang Benar-Benar Berfungsi Sebagaimana Tujuan Asalnya”. (Dr. W.C. Douglas Dalam Cutting Edge, Mei 1990).
”Satu-Satunya Vaksin Yang Aman Adalah Tidak Menggunakannya Sama Sekali”. (Dr. James A. Shannon, Institut Kesehatan Nasional, AS)
”Vaksinasi Adalah Produk Kesalahan Dan Kebodohan Yang Tidak Dirancang Dengan Baik. Ia Seharusnya Tidak Mendapatkan Tempat Dari Sisi Kebersihan Maupun Kedokteran. Vaksinasi Tidak Ilmiah, Keyakinan Konyol Yang Membawa Maut Dan Mengakibatkan Kesengsaraan Yang Berkepanjangan.” (Profesor Chas Rauta, Universitas Perugia, Italia Didalam New York Medical Journal, Juli 1899).
“Imunisasi Terhadap Cacar Lebih Berbahaya Dari Pada Penyakit Itu Sendiri”. (Profesor Ari Zuckerman, WHO).
”Tidak Ada Satupun Vaksin Yang Telah Dibuktikan Keamanannya Sebelum Diberikan Kepada Anak-Anak”. (Pakar Bedah Umum, Leonard Scheele Di Konfrensi AMA, AS 1955).

Ibu-ibu di AS Gugat Vaksinasi

Hidayatullah.com–Pemberian vaksin kepada anak-anak yang bertujuan meningkatkan kekebalan tubuh malah dirasa bermasalah. Itulah yang kini terjadi pada ibu-ibu di Amerika Serikat (AS). Mereka merasa bahwa vaksin dengan bahan pengawet thimerosal yang diberikan kepada anak-anak mereka telah memicu sindrom autisme.
Thimerosal adalah senyawa organomerkuri. Di AS, thimerosal biasa digunakan untuk antiseptik dan antifugal. Kandungan merkuri thimerosal bisa mencapai 49 persen.
Ibu-ibu yang merasa dirugikan kemarin mengajukan gugatan ke pengadilan. Pengacara mereka berusaha menunjukkan bahwa bahan pengawet yang menggunakan merkuri dapat memicu gejala autisme.
Sebagai bukti nyata, seorang anak laki-laki dari Portland, Oregon, akan menjalani serangkaian tes untuk membuktikan hal itu. Pengacaranya menyatakan bahwa bocah tersebut sebelum divaksinasi dalam kondisi sehat, bahagia, dan normal.
Tapi setelah divaksinasi dengan thimerosal, kondisinya mengalami kemunduran. Jika hal itu terbukti benar, ratusan keluarga tersebut akan mendapatkan uang kompensasi.
Secara keseluruhan, hampir 4.900 keluarga telah mengajukan klaim ke Pengadilan Federal AS (pengadilan yang menangani klaim melawan pemerintah AS, Red). Mereka menyatakan bahwa vaksin tersebut menyebabkan autisme dan masalah-masalah saraf pada anak-anak mereka.
Pengacara dari keluarga yang mengajukan gugatan menyatakan bahwa mereka akan menunjukkan bukti bahwa suntikan vaksin yang mengandung thimerosal menyebabkan endapan merkuri di otak. Zat merkuri tersebut telah membangkitkan sel otak tertentu yang memicu autisme sehingga anak cenderung acuh.
“Di beberapa anak, ada cukup merkuri untuk membuat pola neuroinflammatory kronis yang dapat memicu penyakit autisme regresif,” ujar Mike Williams, salah seorang pengacara para ibu tersebut.
Badan ahli khusus dari pengadilan telah menginstruksi penggugat untuk melakukan tes untuk membuktikan teori penyebab autisme tersebut. Mereka juga menunjuk tiga ahli untuk menangani kasus itu.
Tiga kasus di kategori pertama pernah didengar dan diajukan tahun lalu, namun sampai saat ini belum ada keputusannya. Kasus yang disidangkan kemarin difokuskan pada teori kedua tentang penyebab autisme.
Teori tersebut menyatakan bahwa thimerosal yang terdapat dalam vaksin menyebabkan autisme. Para pengacara keluarga itu berharap bisa meyakinkan para ahli bahwa thimerosal menyebabkan peradangan yang memicu autisme regresif.
Namun, banyak di antara anggota komunitas medis merasa skeptis terhadap klaim tersebut. Mereka takut klaim itu akan mengakibatkan beberapa orang tidak melakukan vaksinasi atas anak-anaknya.
“Yang saya sayangkan adalah orang-orang yang antivaksin akan beralih dari satu hipotesis ke hipotesis berikutnya tanpa menengok kasus di belakangnya,” ujar Dr Paul Offit, direktur pusat pendidikan vaksinasi di rumah sakit anak Philadelphia.
Sebenarnya, beberapa tahun belakangan thimerosal telah dihilangkan dari standar vaksinasi anak-anak, kecuali dalam vaksin flu yang tidak dikemas dalam satu dosis. Pusat pengendalian penyakit AS (Centers for Disease Control/CDC) menyatakan bahwa vaksin flu yang mengandung thimerosal hanya tersedia dalam jumlah yang terbatas.
Pada 2004, institut obat-obatan di AS telah mengadakan penelitian tentang penggunaan thimerosal dalam vaksin. Berdasar penelitian tersebut, tidak ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan bahwa penggunaan thimerosal dapat memicu autisme pada anak-anak.
Meski demikian, ratusan keluarga yang menuntut mempunyai pendapat berbeda. Berdasar pengalaman, anak-anak mereka menderita gejala autisme setelah pemberian vaksin dengan thimerosal tersebut.
Website yang dirilis pengadilan menunjukkan bahwa lebih dari 12.500 klaim telah diajukan sejak program vaksinasi dengan thimerosal pada 1987. Dari keseluruhan klaim tersebut, 5.300 klaim adalah kasus autisme dan lebih dari USD 1,7 miliar (Rp 15,7 triliun) telah dibayarkan. Website itu juga menyatakan bahwa saat ini lebih dari USD 2,7 miliar (Rp 24,94 triliun) dana yang berasal dari pajak pertambahan nilai telah disediakan untuk meng-cover jika terjadi masalah dalam program vaksinasi. [ap/cha/berbagai sumber/www.hidayatullah.com

Immunisasi dan Bias Media Cetak

Buana Katulistiwa- Reaksi pejabat dan masyarakat di dalam dan luar negeri ternyata begitu luar biasa ketika dua kasus (spesimen virus) polio dikabarkan positif terjadi di Desa Girijaya, Sukabumi, Jawa Barat. Dari pejabat PBB dengan lembaga WHO, Amerika Serikat (AS), China, dan beberapa negara lainnya, hingga pers dalam dan luar negeri tiba-tiba begitu tertarik. Ada apa?

Merebaknya kasus ini, menurut sumber di Depkes RI, berawal dari adanya laporan yang menyebut adanya virus polio liar ditemukan di Kabupaten Sukabumi, dengan berdasarkan identifikasi awal adanya kasus lumpuh layu yang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan.
Laporan ini kemudian direspon oleh Depkes dengan menurunkan tim bersama-sama dengan WHO pada 24-27 April 2005 ke kabupaten ini, termasuk ke 17 kabupaten/kota di Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. Selain memantau, mereka juga memberikan imunisasi polio massal pada anak-anak balita di lokasi. Langkah-langkah ini, sesuai dengan standar yang ditetapkan WHO.
Nah, dari pemantauan inilah, tim menemukan enam kasus lumpuh layu lain di desa tersebut. Setiap kasus telah diambil spesimen yang diperlukan untuk konfirmasi laboratorium. Dari hasil investigasi tersebut diidentifikasi adanya virus polio liar yang diikuti dengan penyebaran setempat.
Untuk memastikan, spesimen virus dirujuk ke laboratorium polio rujukan internasional di Mumbai, India, sekaligus untuk dapat mengetahui jenis dan asal virus. Untuk penelitian lebih jauh, konon virus juga dikirimkan ke laboratorium di Atlanta, AS.
Lalu pada 2 Mei 2005, laboratorium Mumbai, mengkonfirmasikan bahwa adanya polio virus liar (wild poliovirus type 1) dari acute flaccid paralysis (AFP), dari satu anak perempuan berusia 18 bulan, yang belum pernah diimmunisasi polio. Kemudian pada 4 Mei 2005, dipastikan lagi virus yang sama mengidap seorang bocah perempuan berumur 20 bulan dari lokasi yang sama.
Yang menarik, hasil laboratorium itu, sebagaimana disampaikan oleh Kepala Komunikasi Menteri Kesehatan Fahmi Achmadi, Rabu (4/5), virus itu berasal dari Afrika. Analisa lebih lanjut juga menyatakan bahwa virus itu menempuh perjalanan ke Indonesia melalui Sudan dan serupa dengan virus yang baru-baru ini ditemukan di Arab Saudi dan Yaman.
“Proses globalisasi menghasilkan banyak pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain, dan beberapa diantaranya membawa penyakit menular,” ujar Fahmi Achmadi.
Media massa kemudian ramai-ramai memberitakannya. Mulai dari CNN, BBC, Washington Post, Washington Times, dan lainnya yang mengutip Associated Press(AP) atau sumber lain, termasuk media di dalam negeri yang menempatkannya pada halaman pertama. Dari pantauan Buana Katulistiwa, beberapa media lebih menyenangi konteks Afrika dan Timur Tengah yang disebut-sebut sebagai asal virus ini, tanpa diketahui interpretasi seperti apa yang dikehendaki para pembaca.
Tampak lebih ekstrim, misalnya, apa yang ditulis oleh AP yang mewawancarai Fahmi Achmadi. Kantor berita ini menulis otoritas (kesehatan RI), mengatakan bahwa secara genetis, asal penyakit itu adalah salah satu tempat di Nigeria, dimana bibit penyakit ini menyebar dengan cepat setelah kelompok Muslim di sana memboikot vaksin tersebut (seperti ada vaktor kesengajaan. Red)pada tahun 2003 akibat rumors yang sempat beredar bahwa vaksin itu adalah bagian dari rencana Amerika Serikat untuk membuat mereka tidak subur (tidak dapat memiliki keturunan) atau sengaja untuk menularkan AIDS kepada mereka.
Masih menurut berita AP- dengan menyebut sumber expert says (pendapat ahli -Red)- dari Afrika bibit penyakit ini singgah di Timur Tengah. Pekerja migran dari Indonesia di sana kemungkinan terkontaminasi sebelum kembali ke Indonesia.
Dikutip pula pernyataan pejabat medis WHO untuk immunisasi, Bardan Rana, mengatakan bahwa kasus virus polio liar di Sukabumi itu, 99 persen kemungkinannya berasal dari Arab Saudi. Virus telah dibawa oleh orang Indonesia yang terakhir ini ke Jawa Barat. Arab Saudi, begitu AP, adalah tujuan umum bagi orang-orang Indonesia yang melakukan perjalanan dalam jumlah besar untuk bekerja atau untuk melaksanakan ibadah haji, yang kemungkinan paling akhir dilakukan pada Januari.
“Ada banyak hubungan dengan orang yang datang maupun yang pergi,” kata Rana. Dan dia menekankan, bahwa virus mungkin telah menyebar dari Arab Saudi ke negara lain sebelum dia singgah ke Indonesia.
Berita itu nyaris menenggelamkan apa pernyataan Achmadi yang mengatakan, “Saya sangat yakin bahwa tidak akan ada masalah dalam mencegah penyakit ini.”
Yang tak kalah menarik, China yang pernah diserang SARS dan Flu Burung, juga ambil posisi cepat untuk mengontak Indonesia, untuk mengetahui seperti apa kasus polio yang tiba-tiba menjadi “buah bibir” dunia itu.
Setelah 10 tahun
Sebelum ini, Menkes Dr dr. Siti Fadilah Supari, SpJP mengatakan bahwa virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995. Hal ini berarti sudah ada sepuluh tahun rentang waktu kasus ini kembali muncul.
Namun demikian untuk menghapus virus polio liar dari Indonesia, Departemen Kesehatan telah menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada tahun 1995, 1996, 1997, dan di sebagian wilayah Indonesia pada tahun 2000 dan 2001. PIN Polio kembali dilaksanakan pada tahun 2002 untuk mempertahankan tingkat kekebalan anak terhadap ancaman virus polio liar. Setiap tahun, sekitar 90 persen bayi di Indonesia mendapatkan imunisasi polio rutin.
Untuk memastikan masih ada atau tidaknya virus polio liar serta deteksi dini masuknya virus polio liar dari negara lain dilakukan sistem pemantauan lumpuh layu terhadap anak dibawah usia 15 tahun yang sesuai dengan standar WHO. Sistem pemantauan ini berdasarkan penilaian pakar internasional pada tahun 2003 menunjukkan kualitas yang memadai untuk mendeteksi adanya penyebaran virus polio liar di Indonesia.
Mengantisipasi kasus yang terjadi di Sukabumi ini, Pemerintah Indonesia sendiri telah merencanakan untuk melakukan immunisasi terhadap 5,2 juta anak berusia di bawah lima tahun di Provinsi Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.
WHO sendiri telah mencanangkan tahun 2008 sebagai tahun bebas polio di seluruh dunia. WHO bahkan telah menunjuk perusahaan PT Bio Farma sebagai penyedia vaksin polio injeksi, bukan hanya bagi konsumsi Indonesia, tapi di berbagai negara, sebagaimana pernah diakui oleh Dirut Bio Farma Marzuki Abdullah.
Negara endemik polio
Di seluruh dunia, masih terdapat 6 negara endemis polio yaitu India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan. Tetapi pada tahun 2004 dan awal tahun 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio liar yang berasal dari negara yang masih endemis polio. Termasuk, apa yang dikatakan pejabat WHO tadi, Arab Saudi.
Sementara untuk daerah-daerah lain di Indonesia, berdasarkan pantauan Buana Katulistiwa, belum ada laporan yang mengabarkan adanya kasus viruspolio liar seperti yang ditemukan di Jawa Barat.
Menurut data WHO, upaya pemberantasan polio global, (yang diprakarsai oleh The Global Polio Eradication Initiative yang diluncurkan tahun 1988) telah mampu mengurangi banyaknya kasus penyakit lumpuh dari 350,000 tiap-tiap tahun pada tahun 1988 menjadi 1,267 kasus pada tahun 2004.
Pada tahun 2005 ini, kasus polio yang tercatat per 4 Mei 2005 adalah: Nigeria 54 kasus (endemik), Sudan 24 kasus (re-established transmission), Yaman 22 kasus (impor), India 14 kasus (endemik), Pakistan 6 kasus (impor), Indonesia 2 kasus (impor), Ethiopia 1 kasus (impor), Kamerun 1 kasus (impor), Nigeria 1 kasus (endemik).
Menurut petinggi WHO, boikot atas immunisasi polio telah menyebabkan terjangkitnya penyakit menyebar seluruh benua, yang menyebabkan anak-anak mengalami penderitaan di berbagai negara yang tadinya sudah bebas polio.
Nah, bagaimanakah harus menyikapinya? Terserah kepada Anda. (da/bj)

Vaksin Halal? Inilah Hasil Wawancara MUI dengan Hidayatullah

Berikut cuplikan wawancara antara Hidayatullah dan KH Ma’ruf AMin selaku Ketua Komisi Fatwa MUI (halaman 23)
H: apa benar vaksin yang diedarkan tahun lalu terdapat unsur haram?
M: vaksin yang dipakai untuk imunisasi polio tahun lalu memang terdapat unsur haram (karena mengandung porcine/tripsin babi)
H: lalu, tanggapan MUI saat itu?
M: kalau (bahan babi itu) memang ada penggantinya, kita tidak akan izinkan. tapi menurut Dep Kes (pengganti itu) tidak ada. yang ada hanya bahan itu. apabila yang sepenuhnya halal tidak ada, tidak ada alternatif, padahal polio itu sangat berbahaya dan bahanya cukup besar, maka kita menyatakan itu boleh karena darurat
H: apa maksudnya boleh karena darurat?
M: zat itu (tripsin babi) tetap haram, tapi diperbolehkan karena kondisi darurat
H: apakah ini berarti vaksin menjadi halal?
M: kita tidak menghalalkan yang haram. sementara kita gunakan yang haram karena darurat. sampai sekarang belum ada (vaksin) yang halal untuk polio. karena ini darurat, ya kita pakai. begitu juga dengan (vaksin) campak
H: apakah depkes sudah meminta fatwa MUI tentang vaksin campak? M: perasaan saya belum. untuk campak, kita belum membuat apa2
H: bagaimana dengan penggunaan ginjal kera dan janin bayi hasil aborsi sebagai media pebiakan virus untuk vaksin?
M: iya, itu ya haram. itu memang tidak diperbolehkan.
H: apa pertimbangan MUI menyatakan kedaruratan masalah ini?
M: pressentasi dari depkes memang menakutkan kalau itu dibiarkan. polio merupakan bahaya. yang katanya darang fari sudan ke jeddah, lalu ke sukabumi, terus menjalar ke mana2. bahaya polio sedemikian mengancam, generasi kita akan menjadi generasi polio kalau tidak divaksinasi
H: apakah ada rekomendasi yang MUI berikan kepada pemerintah?
M: kita minta pemerintah mengupayakan obat (vaksin) yang sepenuhnya halal. jadi, ini hanya untuk sementara
H: bagaimana dengan hadits Rasulullah saw yang menyatakan Allah tidak menjadikan obat dari yang haram?
M: itu kan kaidah umumnya. tapi, kalau yang ditemukan baru yang haram dan juka tidak ditanggulangi akan menimbulkan kesulitan, terpaksa kita gunakan. ini untuk sesaat saja. hanya untuk sementara saja. agama memberikan keluasan, kemudahan, ketidaksempitan. dalam keadanan seperti ini bisa diperbolehkan. soal zat (tripsin babi), tetap haram, tapi diperbolehkan karena kondisi darurat. dalam hal makanan juga demikian. kalau tidak ada yang bisa dimakan pada saat itu kecuali yang haram, maka diperbolehkan. famanidh thirro ghairo baaghin wa laa’aadiin falaa itsma ‘alaihi (barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. QS al-Baqarah: 173)
H: bagaimana dengan orang tua yang menolak anaknya divaksinasi
M: seharusnya tidak menolak. sebab, menurut depkes, kalau ada yang terkena polio, dampaknya akan luas sekali/ penyakit itu akan menyebar. usaha yang dilakukan pemerintah menjadi tidak berguna
H: kabarnya ada perusahaan farmasi swasta yang meminta sertifikat MUI untuk vaksin yang mereka produksi
M: memang ada, tapi kami tidak mai memberikan. karena vaksin itu hanya bisa dipakai kalau yang meminta adalah pemerintah, dalam hal ini depkes. kalau swasta, nanti malah banyak yang minta
H: mengapa demikian?
M: kita tidak mau meproduksi obat-obatan (haram) seperti itu. itu hanya karena darurat. kalau swasta, tidak jelas digunakan

PENELITIAN TENTANG VAKSIN, Wakefield, Needleman : Berkorban Demi Ilmu

Dr Andrew Wakefield mengumumkan telah menemukan virus measles yang sama dengan yang disuntikkan liwat vaksin MMR dalam peradangan usus anak-anak autistik maka iapun langsung dituduh melakukan hal yang menyalahi ilmu. Ia diadili oleh para teman sejawat di negaranya dan bahkan dikeluarkan dari rumah sakit dimana ia bekerja.
Minggu yang lalu , sekali lagi penelitian Wakefield dibuktikan kebenarannya dengan penelitian serupa di Amerika dengan hasil yang sama.
Press release : June 15, 2006.
Persamaannya begitu mencolok tentang apa yang sedang terjadi saat ini dengan 30 tahun yang lalu. Seorang peneliti yang gigih mencari jawaban dan mempertanyaan keamanan dan effektivitas sebuah produk yang terkenal, menjadi bulan2an perusahaan raksasa.
Pada tahun tujuh puluhan, cat dan bensin yang dicampur timbal hitam adalah 2 produk yang terkenal. Suatu saat, seorang peneliti : Dr Herbert Needleman, melakukan studi tentang hubungan langsung antara kecerdasan anak dengan paparan timbal hitam.
Sebagai jawaban industri timbal hitam menyewa para ilmuwan yang “netral” untuk menuduh Needleman melakukan scientific misconduct dan mengadilinya.
Dikemudian hari salah seorang dari mereka mengaku telah dibayar oleh industri timbal.
Penelitian Needleman-lah yang menyebabkan dihapuskannya pemakaian timbal dalam cat dan bensin.
Tiga dekade kemudian Dr Andrew Wakefield mengalami hal yang sama. Ketika ia mengumumkan telah menemukan virus measles yang sama dengan yang disuntikkan liwat vaksin MMR dalam peradangan usus anak-anak autistik maka iapun langsung dituduh melakukan hal yang menyalahi ilmu. Ia diadili oleh para teman sejawat di negaranya dan bahkan dikeluarkan dari rumah sakit dimana ia bekerja.
Minggu yang lalu , sekali lagi penelitian Wakefield dibuktikan kebenarannya dengan penelitian serupa di Amerika dengan hasil yang sama.
Sebelumnya telah ada 2 penelitian di Amerika dengan hasil yang sama.
Dr Stephen Walker dari Wake Forest University School of Medicine, meneliti anak-anak dengan autisme regressif dan gangguan pencernaan. Dari hasil yang telah masuk sampai saat ini, semua ditemukan virus measles dengan jenis yang sama dengan vaksin MMR. Ia menemukan virus tersebut pada 87% anak-anak yang ditelitinya.
Belum ada tanggapan apapun dari pemerintahnya. Namun ia tidak mengalami nasib yang sama seperti Wakefield.
Kapan para dokter di Indonesia akan berani melakukan penelitian seperti ini ?(Red)

http://www.autisme.or.id/berita/article.php?article_id=69

Zat Berbahaya Dalam Vaksin

Vaksin mengandung substansi berbahaya yang diperlukan untuk mencegah infeksi dan meningkatkan performa vaksin. Seperti merkuri, formaldehyde, dan aluminium, yang dapat membawa efek jangka panjang seperti keterbelakangan mental, autisme, hiperaktif. alzheimer, kemandulan, dll. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah anak autis meningkat dari antara 200 – 500 % di setiap negara bagian di Amerika.
Sarat Dengan Kimia Beracun
Dapat dikatakan semua jenis vaksin mengandung racun. Dalam banyak keadaan bahan tambahan vaksin (penguat, penetral, pengawet dan agen pembawa) jauh lebih beracun daripada komponen virus atau bakteri dalam vaksin tersebut. Misalnya agen penyebab kanker yaitu formaldehid dan thimerosal dapat merusak otak. Tidak ada orang tua yang berpikir untuk memberi makan anaknya dengan formaldehid (pengawet mayat), raksa atau alumunium fospat. Akan tetapi dengan suntikan vaksin bahan-bahan ini masuk langsung ke dalam aliran darah.
Berikut adalah informasi mengenai resiko kesehatan yang ditimbulkan oleh sebagian bahan beracun utama dalam vaksin, yang disusun dari berbagai sumber termasuk dari Persatuan Pemerhati Vaksin Australia:
• Alumunium: dapat meracuni darah, syaraf,pernapasan, mengganggu sistem imun dan syaraf seumur hidup. Dinyatakan sebagai penyebab kerusakan otak, hilang ingatan sementara, kejang dan koma. (Catatan: dalam jumlah sedikit tidak beracun dan mungkin bermanfaat bagi tubuh. Namun kadarnya dalam vaksin amat tinggi, sekitar 0,5%)
• Ammonium Sulfat: diduga dapat meracuni sistem pencernaan, hati, syaraf dan sistem pernapasan.
• Ampotericin B: Sejenis obat yang digunakan untuk mencegah penyakit jamur. Efek samping nya adalah menyebabkan pembekuan darah, bentuk sel darah merah menjadi tidak sempurna, masalah ginjal, kelesuan dan demam dan alergi pada kulit.
• Beta-Propiolactone: diketahui menyebabkan kanker, meracuni sistem pencernaan, hati, sistem pernafasan, kulit dan organ genital.
• Kasein: perekat yang kuat, sering digunakan untuk melekatkan label pada botol. Walaupun dihasilkan dari susu, didalam tubuh kasein dinggap protein asing yang beracun.
• Formaldehid: penyebab kanker. Zat ini lebih berbahaya dibanding sebagian bahan kimia lain.
• Formalin: Salah satu turunan dari formaldehid. Formalin adalah campuran 37%-40% formaldehid, air dan biasanya 10% metanol. Formalin menempati peringkat ke 5 dari 12 bahan kimia yang paling berbahaya.(Enviromental Defense Fund, AS)
• Monosodium Glutamat (MSG): bagi orang yang alergi pada MSG mungkin akan mengalami perasaan seperti terbakar dibelakang leher, lengan dan punggung atau mengalami sakit dada, sakit kepala, lesu, denyut jantung cepat dan kesulitan bernafas. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS, suntikan glutamate dalam hewan percobaan menyebabkan kerusakan sel syaraf otak.
• Neomycin: antibiotik ini mengganggu penyerapan vitamin B6. Kekurangan vitamin B6 dapat menyebabkan epilepsi dan cacat mental.
• Fenol: digunakan dalam pembuatan disinfektan, pewarna, industri farmasi, pelastik dan bahan pengawet. Fenol dapat menyebabkan keracunan sistemik, kelemahan, berkeringat, sakit kepala, muntah-muntah, gangguan mental, syok, hipersensitif, kerusakan ginjal, kejang, gagal jantung atau ginjal dan kematian.
• Fenoksi Etanol (anti beku): menimbulkan bau badan tidak sedap, kerusakan pencernaan, kebutaan, koma dan kematian.
• Polysorbate 20 dan Polysorbate 80: bahan yang meracuni kulit atau organ genital.
• Sorbitol: menyebabkan kerusakan system usus.
• Thimerosal: merupakan unsure ke 2 yang paling beracun kepada manusia setelah uranium. Dapat merusak otak dan sistem syaraf juga dapat mengantarkan pada penyakit autoimun.
(untuk mengenal lebih jauh vaksin baca artikel berikutnya : Bagaimana Vaksin Dibuat)

Haruskah Vaksinasi?
sebagai orang tua, tentunya kita mengharapkan hal terbaik yang dapat kita berikan kepada seluruh anak kita. Hal tersebut hanya dapat diwujudkan jika dan hanya jika kita memiliki informasi yang memadai mengenai apapun yang ingin kita persembahkan kepada mereka.
Fakta-fakta mengejutkan tentang kandungan merkuri yang digunakan dalam sebagian besar vaksin anak saat ini baru salah satu contoh mengerikan tentang vaksin yang harus Anda ketahui.

Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak
December 18th 2007, on Kesehatan, Ulasan Buku
Buku berjudul Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak ini adalah saduran dari buku berjudul What Your Doctor May Not Tell You About Children’s Vaccinations karangan Stephanie Cave, M.D., F.A.A.F.P bersama Deborah Mitchell.
Diterbitkan dengan ISBN 979-22-349-4 yang diterbitkan pertama kali oleh PT. Gramedia Pustaka Utama cetakan pertamanya pada tahun 2003.
Buku yang sangat memukau saya karena menyajikan banyak informasi mengejutkan tentang vaksinasi yang tidak pernah ditemukan di media informasi apapun.
Selama ini setiap informasi yang kita terima mengenai vaksinasi adalah suatu hal yang harus dilakukan dan memiliki dampak nol persen terhadap kesehatan manusia.
Padahal sebagaimana tertulis dalam lembaran pertama buku ini disebutkan sebagai berikut, “Dalam hal vaksinasi anak, mencegah mungkin tidak lebih baik daripada menyembuhkan”.
Ditutup dengan kalimat berikutnya, “Jangan ambil resiko untuk kesehatan anak Anda! Pelajari lebih lanjut tentang vaksinasi yang ada pada masa kini dengan… ORANG TUA HARUS TENTANG VAKSINASI ANAK”.
Mengapa hal tersebut menjadi penting?
Karena sebagai orang tua, tentunya kita mengharapkan hal terbaik yang dapat kita berikan kepada seluruh anak kita. Hal tersebut hanya dapat diwujudkan jika dan hanya jika kita memiliki informasi yang memadai mengenai apapun yang ingin kita persembahkan kepada mereka.
Fakta-fakta mengejutkan tentang kandungan merkuri yang digunakan dalam sebagian besar vaksin anak saat ini baru salah satu contoh mengerikan tentang vaksin yang harus Anda ketahui.
Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin tidak Anda ketahui tentang vaksin:
1. Beberapa vaksin mengandung racun seperti air raksa (merkuri), almunium dan formalin
2. Di tahun 1998, Pemerintah Perancis menghentikan program vaksinasi berbasis sekolah yang memberikan vaksin Hepatitis B kepada anak-anak usia sekolah karena kasus multiple-sklerosis telah dikaitkan dengan vaksin tersebut dan lebih dari 600 kasus imunitas dan persyarafan telah dilaporkan.
3. Beberapa vaksin dibuat menggunakan bahan yang berasal dari jaringan manusia dari janin yang digugurkan.
4. Kebanyakan negara mewajibkan bahwa saat anak berusia 5 tahun, ia sudah harus menerima 33 dosis dari 10 vaksin.
5. Para dokter hanya melaporkan kurang dari 10 persen kejadian buruk yang berkaitan dengan vaksinasi dan/atau sesudah vaksinasi.
Selain itu salah satu isu keamanan yang menurut buku ini sering diabaikan adalah bahan-bahan tambahan yang terdapat dalam vaksin sebagai berikut:
1. Alumunium
Logam ini ditambahkan ke dalam vaksin dalam bentuk gel atau garam sebagai pendorong terbentuknya antibodi. Alumunium telah dikenal sebagai penyebab kejang, penyakit alzheimer, kerusakan otak dan dimensia (pikun). Logam ini biasanya digunakan pada vaksin-vaksin DPT, DaPT dan Hepatitis B.
2. Benzetonium Khlorida
Benzetonium adalah bahan pengawet dan belum dievaluasi keamanannya untuk dikonsumsi oleh manusia. Biasa digunakan sebagai campuran vaksin anthrax terutama diberikan kepada para personil militer.
3. Etilen Glikol
Biasa digunakan sebagai bahan utama produk antibeku dan digunakan sebagai pengawet vaksin DaPT, polio, Hib dan Hepatitis B.
4. Formaldehid
Bahan kimia yang terkenal sebagai zat karsinogenik (penyebab kanker) yang biasanya digunakan dalam proses pengawetan mayat, fungisida/insektisida, bahan peledak dan pewarna kain.
Selain beracun, menurut Sir Graham S. Wilson pengarang buku The Hazards of Immunization formalin tidak mamadai sebagai pembunuh kuman sehingga maksud penggunaannya sebagai penonaktif kuman dalam vaksin menjadi tidak berfungsi dengan baik.
Akibatnya adalah kuman yang seharusnya dilemahkan dalam vaksin tersebut malah menguat dan menginfeksi penggunanya.
5. Gelatin
Bahan yang dikenal sebagai alergen (bahan pemicu alergi) ini banyak ditemukan dalam vaksin cacar air atau MMR. Bagi kaum Muslim, gelatin menimbulkan isu tambahan karena biasanya bahan dasarnya berasal dari babi.
6. Glutamat
Bahan yang digunakan dalam vaksin sebagai penstabil terhadap panas, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini banyak dikenal sebagai penyebab reaksi buruk kesehatan dan ditemukan pada vaksin varicella.
7. Neomisin
Antibiotik ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan kuman di dalam biakan vaksin. Neomisin menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan sering ditemukan dalam vaksin MMR dan polio.
8. Fenol
Bahan yang berbahan dasar tar batu bara yang biasanya digunakan dalam produksi bahan pewarna non makanan, pembasmi kuman, plastik, bahan pengawet dan germisida.
Pada dosis tertentu, bahan ini sangat beracun dan lebih bersifat membahayakan daripada merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi berlawanan dengan tujuan utama pembuatan vaksin.
Fenol digunakan untuk pembuatan beberapa vaksin termasuk vaksin tifoid.
9. Streptomisin
Antibiotik ini dikenal menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan biasa ditemukan dalam vaksin polio.
10. Timerosal/Merkuri
Bahan yang sangat beracun yang selama beberapa puluh tahun digunakan pada hampir seluruh vaksin yang ada di pasaran. Padahal timerosal/merkuri adalah salah satu bahan kimia yang bertanggung jawab atas tragedi Minamata di Jepang yang menyebabkan lahirnya bayi-bayi yang cacat fisik dan mentalnya.
Berikut ini adalah beberapa kerusakan yang disebabkan keracunan merkuri:
1. Otak bayi masih mengalami perkembangan yang cepat dan merkuri bisa merusak sel otak secara menetap.
2. Sistem kekebalan tubuh bayi masih belum berkembang secara penuh sehingga bayi tidak mempunyai kemampuan melawan serangan benda asing (bakteri, virus dan racun lingkungan) secara benar.
3. Kemampuan tubuh bayi untuk membuang racun dari tubuhnya melalui hati belum berkembang sepenuhnya sehingga zat-zat berbahaya cenderung menetap di dalam tubuhnya seperti merkuri, formalin dan alumunium.
4. Penghambat darah-otak (selaput yang berada di antara darah yang beredar di tubuh dengan otak yang berfungsi bahan-bahan berbahaya mencapai otak) belum mampu menghalangi racun yang bisa merusak otak.
5. Gejala keracunan merkuri yang paling umum antara lain adalah:
* Perubahan suasana hati dan kepribadian, termasuk mudah marah dan malu
* Hilangnya sensasi dan masalah penglihatan serius
* Ketulian dan kecenderungan kesulitan berkomunikasi karenanya
* Kelemahan otot dan tidak adanya koordinasi tubuh yang baik
* Hilangnya/lemahnya ingatan
* Tremor/gemetaran
Belum lagi fakta-fakta yang disajikan dalam buku ini yang mengkaitkan vaksinasi yang berbahaya dengan meningkatnya kasus-kasus autisme saat ini.
Dimana kasus autisme ini ternyata memiliki kemiripan dengan gejala-gejala keracunan merkuri yang banyak digunakan dalam vaksin.
Hal yang menarik lainnya untuk kita di Indonesia yang sedang gencar-gencarnya melakukan vaksinasi polio melalui mulut (oral/dimakan) adalah fakta bahwa sejak tahun 2000 Sentra Pengendalian Penyakit Amerika Serikat sudah menghentikan vaksin oral dan digantikan dengan suntikan.
Mengapa? Karena vaksinasi polio oral terbukti menimbulkan sampai 10 kasus polio per tahun dan dituding menyebabkan gangguan serius pada sistem pencernaan terutama penyumbatan usus!
Lantas mengapa informasi-informasi tersebut cenderung tidak pernah terpublikasikan secara luas?
Alasannya tentu saja sederhana sekali: UANG.
Bisnis produksi dan penjualan vaksin bernilai milyaran dollar Amerika Serikat per tahun! Selain itu banyak sekali bukti-bukti yang kemudian dibungkam menelusuri bahwa penyakit-penyakit saat ini seperti HIV/AIDS, DBD (demam berdarah), flu burung, dsb adalah senjata biologi yang sengaja dikembangkan yang kemudian dilepaskan ke komunitas sehingga mendorong kebutuhan akan obat dan vaksin penyakit-penyakit tersebut.
Saya dan isteri pun akhirnya sepakat untuk tidak memvaksinasi puteri kami. Hal ini kami lakukan setelah berkonsultasi dengan banyak ahli kesehatan (kedokteran, kimia klinis, teknologi kesehatan, dsb).
Apalagi ternyata teman-teman kami yang menjadi atau sedang kuliah menjadi dokter di Eropa secara terang-terangan menyatakan “vaksinasi adalah fiksi seperti cerita manusia mendarat di bulan..”

Memgintip Cara Pambuatan Vaksin. Benarkan Vaksin Aman Bagi Tubuh?

Vaksinasi telah menjadi tulang punggung kesehatan masyarakat sejak dulu. Apabila penyakit berjangkit, vaksinasi muncul dalam benak kita. Ia adalah suntikan kesehatan yang dianggap dokter (bahkan lembaga kesehatan negara) sangat penting sebagai pelindung dari serangan penyakit.
Tujuan Vaksinasi adalah meniru proses penularan penyakit alami dengan kaidah tiruan. Vaksin itu sendiri adalah suntikan yang mengandung berbagai jenis racun yang dimasukan kedalam tubuh. Jika anda menyangka vaksin dapat membasmi kuman atau bebas dari kuman, dugaan anda meleset
.Vaksin dihasilkan dari kuman (atau bagian dari tubuh kuman) yang menyebabkan penyakit. Sebagai contoh vaksin campak dihasilkan dari virus campak, vaksin polio dihasilkan dari virus polio, vaksin cacar dihasilkan dari virus cacar, dll. Perbedaanya terletak pada cara pembuatan vaksin tersebut.
Terdapat 2 jenis vaksin, hidup dan mati. Untuk membuat vaksin hidup, virus hidup dilemahkan dengan melepaskan virus kedalam tisu organ dan darah binatang (seperti ginjal monyet dan anjing, embrio anak ayam, protein telur ayam dan bebek, serum janin sapi, otak kelinci, darah babi atau kuda dan nanah cacar sapi) beberapa kali (dengan proses bertahap) hingga kurang lebih 50 kali untuk mengurangi potensinya. Sebagai contoh virus campak dilepaskan kedalam embrio anak ayam, virus polio menggunakan ginjal monyet, dan virus Rubela menggunakan sel-sel diploid manusia (bagian tubuh janin yang digugurkan). Sedangkan vaksin yang mati dilemahkan dengan pemanasan, radiasi atau reaksi kimia.
Kuman yang lemah ini kemudian dikuatkan dengan Adjuvan (perangsang anti bodi) dan stabilisator (sebagai pengawet untuk mempertahankan khasiat vaksin selama disimpan). Hal ini dilakukan dengan menambah obat, antibiotik dan bahan kimia beracun kedalam campuran tersebut seperti: neomycin, streptomycin, natrium klorida, natrium hidroksida, alumunium hidroksida, alumunium fospat, sorbitol, gelatin hasil hidrolisis, formaldehid, formalin, monosodium glutamat, pewarna merah fenol, fenoksietanol (anti beku), kalium difospat, hidrolysate kasein pankreas babi, sorbitol dan thimerosal (raksa). (Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS juga menurut Psician’s Desk Reference).
Campuran virus atau bakteri, bahan kimia beracun dan bagian tubuh binatang yang berpenyakit inilah yang disuntikan kedalam tubuh anak atau orang dewasa ketika mendapatkan vaksinasi. Menurut CDC AS, bahan tambahan dicampurkan ke dalam vaksin untuk meningkatkan reaksi imun, mencegah pencemaran mikroba dan memperkuat formula vaksin, serta untuk memastikan vaksin tersebut stabil, bebas kuman dan aman. Namun benarkah anggapan ini?
Bagaimana Vaksin Dihasilkan?
Macam-macam vaksin:
– Vaksin DPT (Difteria, Pertusis dan Tetanus)
– Vaksin DtaP (Difteria, Tetanus, dan Acellular Pertusis)
– Vaksin MMR (Campak, Gondok dan Rubela)
– Vaksin Polio hidup oral (OPV)
– Vaksin Polio tidak aktif (IPV)
– Vaksin Hepatitis B
– Vaksin Hib
– Vaksin Varicellazostrer (Cacar Air)
– Vaksin Cacar
Dalam buku The Consumer’s Guide to Childhood Vaccines, Barbara Loe Fisher, pendiri dan presiden pusat informasi vaksin nasional (yang didirikan untuk mencegah kerusakan tubuh dan kematian akibat vaksin melalui pendidikan umum) menjelaskan proses pembuatan vaksin sebagai berikut :
Vaksin Cacar : Perut anak sapi dicukur kemudian diberikan banyak torehan pada kulitnya. Kemudian virus cacar diteteskan pada torehan itu dan dibiarkan bernanah selama beberapa hari. Anak sapi tersebut dibiarkan berdiri dengan kepala terikat supaya tidak dapat menjilati perutnya. Kemudian anak sapi itu dikeluarkan dari kandang dan dibaringkan diatas meja. Perutnya memborok dan bernanah, nanahnya diambil lalu dijadikan serbuk. Serbuk itu adalah bahan vaksin cacar, virus yang kebetulan terdapat pada anak sapi terbawa kedalamnya. (Walene James, Pengarang Immunization: The Reality Beyond the Myth)
Reaksi Tubuh Terhadap Vaksin
Apabila ramuan vaksin tersebut memasuki aliran darah anak. Tubuhnya akan segera bertindak untuk menyingkirkan racun tersebut melalui organ ekresi atau melalui reaksi imun seperti demam, bengkak atau ruam pada kulit. Apabila tubuh anak kuat untuk meningkatkan reaksi imun, tubuh anak mungkin akan berhasil menyingkirkan vaksin tersebut dan mencegahnya terjangkit kembali dimasa yang akan datang. Akan tetapi jika tubuh anak tidak kuat untuk meningkatkan reaksi imun, vaksin beracun akan bertahan dalam tisu tubuh.
Timbunan racun ini dapat menyebabkan penyakit seperti diabetes pada anak-anak, asma, penyakit neurologi, leukimia, bahkan kematian mendadak. Ratusan laporan mencatat efek samping jangka panjang yang buruk terkait vaksin seperti penyakit radang usus, autisme, esenfalitis kronis, skelerosis multipel, artritis reumatoid dan kangker. Sebagian vaksin juga diketahui menyebabkan efek samping jangka pendek yang serius. Pada tanggal 12 Juli 2002, Reuters News Service melaporkan hampir 1000 pelajar sekolah dilarikan ke rumah sakit setelah disuntik vaksin Ensefalitis di timur laut negeri Cina. Para pelajar itu mengalami demam, lemas, muntah dan dalam beberapa kasus terkena serangan jantung setelah divaksinasi.
Kerusakan Tubuh Akibat Vaksin
• Menurut analisa bebas dari data yang dikeluarkan Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) di AS, pada tahun 1996 terdapat 872 peristiwa buruk yang dilaporkan kepada VAERS, melibatkan anak-anak dibawah 14 tahun yang disuntik vaksin Hepatitis B. Anak-anak tersebut dibawa ke ruang gawat darurat rumah sakit karena mengalami masalah kesehatan yang mengancam nyawa. Sebanyak 48 anak dilaporkan meninggal setelah mendapatkan suntikan vaksin tersebut.
• Informasi kesehatan juga dipenuhi contoh yang mengaitkan vaksin dengan timbulnya penyakit. Vaksin telah dikaitkan dengan kerusakan otak, IQ rendah, gangguan konsentrasi, kemampuan belajar kurang, autisme, neurologi.
• Vaksin gondok dan campak yang diberikan pada anak-anak misalnya telah menyebabkan kerusakan otak, kanker, diabetes, leukimia, hingga kematian (sindrom kematian bayi mendadak).
• Kajian tahun 1992 yang diterbitkan dalam The American Journal of Epidemiology menunjukan tingkat kematian anak-anak meningkat hingga 8 kali pada jangka waktu 3 hari setelah mendapat suntikan vaksin DPT.
• Kajian awal oleh CDC AS mendapati anak yang menerima vaksin Hib berisiko 5 kali lebih mudah mengidap penyakit tersebut dibandingkan anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin tersebut.
• Pada tahun 1977, Dr Jonas Salk (Penemu vaksin Polio salk) mengeluarkan pernyataan bersama ilmuan lain bahwa 87% dari kasus Polio yang terjadi sejak tahun 1970 adalah akibat dari vaksin Polio.
• Di AS sebelum tahun 1980 terdapat 1 dari 10.000 anak menderita autisme. Pada tahun 2002 Institut Kesehatan Negeri AS mencatat peningkatan angka tersebut menjadi 250 dari 10.000. Kini persatuan orang tua penderita autisme Amerika memperkirakan peningkatan kasus autisme ± 10% per tahun. Vaksin yang mengandung raksa diyakini sebagai penyebabnya.
• Menurut Boyd Haley, pengurus program kimia Universitas Kentucky dan pakar logam beracun ”Thimerosal mampu meresap diprotein otak, ia sangat beracun bagi syaraf dan enzim” Haley pun terlibat dalam penelitian pada bulan Agustus tahun 2003, mendapati banyaknya kandungan raksa pada penderita autisme, yang dapat dianalisa melalui kadar raksa pada rambut mereka yang berarti etil raksa dari thimerosal telah meresap kedalam otak dan organ tubuh lainnya sangat bepotensi menyebabkan kerusakan sistem syaraf dan mengganggu fungsi ginjal.
• Menurut San Jose Mercury News (6 Juli 2002), seorang dari sepuluh anak-anak dan remaja AS mengalami kelemahan fisik dan mental, menurut pengamatan tahun 2000 terdapat pertambahan mendadak angka kecacatan pada penduduk usia muda. Sedangkan pada tahun sebelumnya data menunjukan peningkatan kecacatan pada anak-anak.
• Sampai usia 2 tahun, anak-anak Amerika dilaporkan telah menerima 237 mikrogram raksa melalui vaksin. Kadar ini melebihi ambang batas yang ditetapkan Organisasi Perlindungan Alam AS yaitu 1/10 mikrogram per hari.
• Sebuah penemuan di Amerika menunjukan bahwa vaksin Hepatitis B mengandung 12 mcg raksa (30 kali lipat dari ambang batas), DtaP dan Hib mengandung 50 mcg raksa (60 kali lipat dari ambang batas) dan Polio mengandung 62,5 mcg raksa (78 kali lipat dari ambang batas).
• Di AS hari ini kasus asma, diabetes dan penyakit auto imun pada usia anak telah meningkat 20 kali lipat dari tahun sebelumnya. Gangguan konsentrasi telah meningkat 3 kali lipat.
• Setiap tahun 25.000 bayi Amerika mengalami kematian mendadak. Vaksinasi adalah penyebab terbesar kematian mendadak. Jepang telah meningkatkan usia penerima vaksin sehingga 2 tahun kemudian angka kematian mendadak turun drastis di negara itu (Cherry, et al, 198
• Swedia menghentikan vaksinasi batuk rejan pada tahun 1979 karena ternyata wabah penyakit ini terjadi pada anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi. Setelah itu penyakit ini menjadi penyakit ringan tanpa kasus kematian. Hal ini secara nyata menunjukan bahwa vaksin sebenarnya menyebarkan penyakit.
• Pada tahun 1975, Jerman menghentikan kewajiban vaksin Pertussis, dan jumlah anak yang mengalami penyakit itu turun drastis. Pada tahun 2000 jumlahnya turun sampai 10%.
Bukti diatas menjadikan vaksinasi layak dipertanyakan. Fakta-fakta menjelaskan bahwa vaksin tidak meningkatkan kesehatan anak-anak. Tetapi anehnya vaksin terus-menerus dibuat dan diwajibkan kepada masyarakat.

Bio Farma Mengakui Penggunaan Tripsin Babi Pada Pembuatan Vaksin?

Hidayatullah. com—Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT. Bio Farma, Drs. Iskandar, Apt., M.M mengatakan, enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV).
Demikian dikatakannya kepada http://www.hidayatullah. com pada acara seminar ilmiah Bio Farma, tentang pandemi influenza di Aula PT. Bio Farma, Bandung.
Namun Iskandar menolak vaksinnya dikatakan haram. “Saat ini yang kami pegang adalah surat dari MUI tentang kehalalan produk yang kita produksi untuk vaksin polio,” ujar Iskandar. Iskandar mengibaratkan kehalalan vaksinnya dengan air yang diproduksi oleh perusahaan air minum (PAM).
Kata Iskandar, air PAM dibuat dari air sungai yang mengandung berbagai macam kotoran dan najis, namun menjadi bersih dan halal setelah diproses. Iskandar melanjutkan, dalam proses pembuatan vaksin, tripsin babi hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein) .
Pada hasil akhirnya (vaksin), enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi ini tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian, dan penyaringan.
Iskandar mengatakan, saat ini PT. Bio Farma sedang melakukan riset untuk mengganti enzim berbahan binatang dengan bahan yang berasal dari tanaman. Di antaranya mengusahakan enzim yang diolah dari kacang kedelai.
“Ketika kita melakukan riset tidak bisa selesai dalam waktu setahun. Ini sudah setahun berjalan, mudah-mudahan 2 – 3 tahun selesai,” ujar Iskandar.
Jaringan Ginjal Kera dan Anjing
Selain penggunaan tripsin, produksi vaksin juga menggunakan media biakan virus (sel kultur) yang berasal dari jaringan ginjal kera (sel vero), sel dari ginjal anjing, dan dari retina mata manusia.
Kepala Divisi Produksi Vaksin Virus PT. Bio Farma, Drs. Dori Ugiyadi mengatakan, ketiga sel kultur tersebut dipakai untuk pengembangan vaskin influenza. “Di Bio Farma, kita menggunakan sel ginjal monyet untuk produksi vaksin polio. Kemudian sel embrio ayam untuk produksi vaksin campak,” ujar Dori.
Diakui Iskandar, sejauh ini vaksin yang bebas dari keterlibatan bahan haram adalah vaksin campak. Karena vaksin tersebut dibiakkan dengan dengan embrio telur ayam serta bebas dari tripsin babi.
Namun secara umum, kata Dori, produksi vaksin masih menggunakan berbagai macam sel yang berasal dari hewan maupun manusia.
Dori mengatakan, untuk satu dosis vaksin campak dibutuhkan 1 sampai 1.5 telur. 12500 telur perhari, dan 600 ribu telur setiap pekannya. Bahkan Iskandar menambahkan, PT Bio Farma pernah digugat oleh LSM lingkungan, Pro Fauna, atas penangkapan ribuan kera ekor panjang untuk produksi vaksinnya. [sur/iman/www.hidayatullah. com]

Bahaya Imunisasi dan Vaksin

“Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.”
~ Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”

Semalam ada seorang bidan muda menelepon saya. Dia menanyakan kepada saya tentang mengapa saya sangat melarang Imunisasi bagi anak-anak (terutama sekali keponakan-keponakan saya). Apakah alasan saya melarangnya? Berikut tulisan singkat saya (bahannya terlalu banyak jadi saya persingkat).
Imunisasi dan Konspirasi di dalamnya.
Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme Internasional.
Kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya :
The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 – the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS).
~ Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda”
Wah hebat sekali ya penguasaan mereka pada lembaga-lembaga strategis.
Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (Baca : konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.
Apa Kata Para Ilmuwan Tentang Vaksinasi?
“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”
~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika
“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”
~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University
“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris
“Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”.
~ dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional
“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962
“Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.”
~ Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional
“Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.”
~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika
“Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.”
~ Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”
Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya.
Dan ternyata faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.
Lalu mengapa bisa hal itu terjadi? Apa rahasia di balik vaksin dan imunisasi?
Menurut pencarian saya tentang imunisasi yang telah saya lakukan sejak beberapa tahun lalu. Saya berusaha mengaitkannya dengan metode ilmu genetik dalam Islam yang sedikit telah saya pahami.
Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut.
Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tau bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut.
Pernahkah anda berpikir apabila DNA orang asing ini tercampur dengan bayi yang masih dalam keadaan suci?
DNA adalah berisi cetak biru atau rangkuman genetik leluhur-leluhur kita yang akan kita warisi. Termasuk sifat, watak, dan sejarah penyakitnya.
Lalu apa jadinya apabila DNA orang yang tidak kita tau asal usul dan wataknya bila tercampur dengan bayi yang masih suci? Tentunya bayi tersebut akan mewarisi genetik DNA sang inang vaksin tersebut.
Pernahkan anda terpikir apabila sang inang vaksin tersebut dipilih dari orang-orang yang terbuang, kriminal, pembunuh, pemerkosa, peminum alkohol, dan sebagainya?
Dari banyak sumber yang saya dengar selama ini, penelitian tentang virus dilakukan kepada para narapidana untuk menghemat biaya penelitian, atau malah mungkin hal itu disengaja?

Vaccination: The Hidden Truth

This is the first half of the shocking but extremely informative video documentary “Vaccination – The Hidden Truth” (1998) where 15 people, including Dr. Viera Scheibner (a PhD researcher), five medical doctors, other researchers, and parents’ experiences, reveal what is really going on in relation to illness and vaccines.
With so much government and medical promotion of vaccination for prevention of disease, ironically, the important facts presented here come from the orthodox medicine’s own peer-reviewed research. The result is a damning account of the ineffectiveness of vaccines and their often harmful effects.

It shows that parents are not being told the truth by the media, the Health Department and the medical establishment, with a medical doctor, Dr. Mark Donohoe, confessing that “It is a problem for me that I am part of a profession that is systematically lying to people.”

Find out how vaccines are proven to be both useless and have harmful effects to your health and how it is often erroneously believed to be compulsory.

Many people simply refuse to believe the truth regardless of how clear it is, but the impeccable documentation presented in this amazing video has changed the minds of many who have seen it.

To view or purchase the whole DVD/video (for as little as 3.50$), go to http://www.vaccination.inoz.com
Sumber :http://www.informationliberation.com/?id=13924

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s